#OctoberWish

Everything is never as it seems.

Mitos tentang "Friday the 13th" langsung terbayang hari ini karena tepat jatuh di hari Jumat tanggal 13. Di Indonesia, mitos tersebut mungkin tak terlalu dipedulikan namun di negara-negara barat sampai dianggap sebagai tanda kesialan.

Bahkan sampai-sampai ada gangguan psikologis yang menyebabkan seseorang takut setiap kali menghadapi Jumat bertanggal 13. Fobia seperti ini dikenal dengan sebutan paraskavedekatriaphobia atau friggatriskaidekaphobia. Fobia pada angka 13 disebut Triskaidekaphobia.

Tahun ini mendapat perhatian khusus karena dalam setahun bakal ada Jumat bertanggal 13. Jumat "sial" kedua akan datang sebulan ke depan, Jumat, 13 Maret 2009 dan disusul Jumat, 13 November 2009.

"Kejadian sampai tiga kali seperti itu hanya terjadi setiap 11 tahun sekali," ujar Thomas Fernsler, ahli matematika dari Universitas Delaware, AS. Rupanya rahasia angka 13 menjadi topik penelitian Fernsler selama lebih dari 20 tahun.

Sejak kapan mitos Friday the 13th mulai dipercayai masyarakat tak ada yang tahu pasti. Namun, mungkin hal tersebut ada kaitannya dengan sejarah masa lalu yang menyebutkan bahwa tamu ke-13 dalam Jamuan Makan Malam Terakhir akhirnya berkhianat kepada Jesus. Pada abad pertengahan, Jumat bertanggal 13 dianggap tanda kesialan.

Numerologi

Kepercayaan semacam ini yang menghubungkan pengaruh angka-angka terhadap kehidupan dan lingkungan sering disebut numerologi. Di zaman modern saat ini numerologi bagian dari parasains, seperti halnya astrologi yang dihitung berdasarkan posisi bintang. Para pakar matematika umumnay mengabaikan numerologi karena tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.

"Saya tidak sepenuhnya menolak," kata Mario Livio, ahli astrofisika yang menulis buku "The Equation That Cpuldn't Be Solved" terbitan Simon &Schuster tahun 2005. Dengan mempelajari angka, Phytagoras berhasil mengungkap rahasia segitiga.

Kadang-kadang, hubungan angka-angka dengan peristiwa muncul jika diperhatikan dengan seksama. Bahkan pengikut Phytagoras berupaya semaksimal mungkin mengombinasikan hubungan angka-angka tersebut untuk mengungkap rahasia kehidupan. (kompas.com)



Gunung api aktif yang diberi nama NW Rota-1 di dasar laut sekitar Guam, sebuah pulau di bagian barat Samudera Pasifik, menjadi hunian makhluk-makhluk laut yang unik. Meski sering terjadi letusan, makin banyak yang datang menghuni kawasan tersebut.

Di antaranya udang, kepiting, siput, dan ketam. Beberapa di antaranya bahkan diperkirakan spesies baru. Pengamatan terakhir dilakukan menggunakan kapal robot bawah laut bernama Jason yang dikendalikan dari kapal riset R/V Thompson pada ekspedisi April lalu.

"Mereka mampu beradaptasi terhadap lingkungannya dan bertahan di lingkungan yang mengandung zat kimia beracun," ujar Bill Chadwick, seorang vulkanolog dari Oregon State University. Ia mengatakan kedatangan jewan-hewan laut karena banyak sumber makanan baru di sekitar bekas letusan.

Semburan gas hidrotermal dari perut gunung telah membawa material organik yang menjadi tempat hidup bakteri. Lapisan subur inilah yang menjadi daya tarik kehadiran makhluk-makhluk lainnya. Bahkan beberapa di antaranya menyesuaikan dengan lingkungan yang baru seperti sejenis udang yang memiliki pengait kecil untuk mengeruk bakteri dan jenis lainnya yang memiliki pengait besar untuk memangsa hewan lain yang berukuran lebih kecil.

Aktivitas gunung api bawah laut ini telah membentuk kerucut setinggi 40 meter dan selebar 300 meter. Para peneliti akan mempelajari hubungan munculnya gunung ini dengan terbentuknya komunitas makhluk hidup seiring aktivitas gunung tersebut.

"Seiring tumbuhnya kerucut tadi, kami telah melihat peningkatan populasi hewan yang hidup di sana," ujar Chadwick. Ia dan timnya telah melakukan pengamatan dua kali sebelumnya pada 2004 dan 2006.

Dengan mempelajari hal tersebut, mereka berharap dapat mengungkap proses pembentukan kehidupan di laut. (kompas.com)