#OctoberWish

Everything is never as it seems.



Ketika ribuan orang memenuhi daerah terbuka untuk menyaksikan gerhana matahari total paling lama pada abad ke-21, semua hewan di kebun binatang di Kota Hangzhou, China timur, juga bereaksi dengan cepat dan menunjukkan kebingungan.

Dua gajah india, masing-masing memiliki berat 5 ton, tampaknya tak mengetahui apa-apa bahwa gerhana matahari terjadi ketika bulan tiba-tiba berada di antara bumi dan matahari sehingga menghalangi sinar matahari.

Saat matahari tak terlihat sekitar pukul 09.35 waktu setempat, kedua gajah tersebut menjatuhkan rumput yang berada di belalai mereka dan kembali ke kandang tanpa ragu.

Tiga jerapah berkumpul di satu sudut ketika kegelapan menyelimuti. Mereka berdiri tak bergerak dan melihat berkeliling. Dua menit kemudian, dua jerapah kembali ke tempat tinggal mereka, sementara satu lagi tetap berada di luar dan masih heran dengan fenomena itu, demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua.

Monyet menjadi kelompok yang paling berisik di kebun binatang tersebut saat gerhana terjadi. Kera yang biasanya bermain-main di hutan memasuki goa mereka.

Dua kukang tak dapat berhenti berteriak-teriak di dalam goa mereka seperti yang mereka lakukan pada malam hari.

"Bayangan bulan membuat burung kehilangan arah, yang jam tubuh dan arah mereka bergantung pada Matahari. Bangau bermahkota merah dan flamingo yang telah berkeliaran atau sedang minum air tiba-tiba tertidur selama masa gelap singkat," katanya.

Namun, ketika sinar matahari muncul lagi beberapa menit kemudian, semua burung itu keluar dari kandang mereka dan memulai kehidupan pada hari lain, demikian dilaporkan Xinhua.

Gerhana matahari tersebut merupakan yang pertama bagi semua hewan di kebun binatang itu. "Burung dan gajah merupakan hewan yang paling sensitif terhadap sinar matahari dan memperlihatkan reaksi lebih besar dibandingkan dengan harimau, singa, macan tutul, dan panda," kata Jiang Zhi, seorang penjaga kebun binatang.

"Namun, karena gerhana tersebut tak berlangsung lama, semua hewan di kebun binatang itu segera melanjutkan kehidupan normal mereka," katanya. (kompas.com)


Rekaman video berisi seorang teroris dengan mengenakan topeng dan berlogat Melayu yang diduga Noordin M Top, saat ditayangkan dan disaksikan sejumlah kiai dan ulama dari Jawa Timur di kediaman Wapres Jusuf Kalla, pada 16 November 2005.

Pascapenyerahan diri Ahmady alias Ahmad Jenggot, ke Kepolisian Daerah Jawa Tengah, saat ini di kalangan warga beredar dugaan bahwa Ahmady bukan sekadar pedagang sapu dan keset ke Lampung. Akan tetapi, ia sekaligus dicurigai sebagai penghubung kelompok teroris Cilacap dan Sumatera.

Soal dugaan itu memang belum ada konfirmasi, tetapi seringnya Ahmady bepergian ke Lampung dengan alasan menjual sapu dan keset itu menguatkan dugaan itu.

Sebelumnya, Kepala Polda Jateng Irjen Alex Bambang Riatmojo menyebutkan, pria berinisial A yang ditangkap di Cilacap itu diduga sebagai anggota jaringan Noordin M Top.

Sejumlah warga Dusun Sigaru, Desa Cikaco, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, menyatakan, Ahmady sering bepergian ke Lampung untuk menjual sapu dan keset, meskipun warga tak pernah melihat dia membuat barang kerajinan dari kelapa itu. Juga tak pernah warga melihat Ahmady membawa barang dagangannya.

Ahmady sebenarnya warga asli Desa Cikaco. Ia lahir dan besar di desa itu, tetapi kemudian ikut orangtuanya transmigrasi ke Lampung. Sekitar 10 tahun lalu dia kembali ke Cikaco dan menikahi Ikah, gadis setempat. Dari perkawinan itu lahir seorang anak yang sekarang berusia 9 tahun. Saat ini, Ikah tengah mengandung tujuh bulan.

Sehari-hari, Ahmady dikenal sebagai peternak dan memelihara ayam di kandang samping rumah mertuanya. Akan tetapi, dia lebih sering bepergian dibandingkan di rumah. Kadang sebulan, kadang dua minggu dia meninggalkan rumah.

Kalau di rumah, Ahmady diketahui sering datang ke rumah Syaefudin Zuhri yang sudah ditangkap polisi pada bulan Juni lalu. Sejak penangkapan Zuhri itu, warga tak pernah melihat Ahmadi, sampai kemunculannya pada hari Selasa lalu. (kompas.com)