#OctoberWish

Everything is never as it seems.



Peristiwa gerhana matahari total (GMT), Rabu (22/7), disambut meriah di sejumlah kota besar di negara-negara Asia. Bahkan, ada yang menyambut kesempatan langka ini dengan menghadirkan seasuatu yang khas.

Misalnya beberapa hotel yang berada di sekitar Bund, Shanghai, China. Selain menyelenggarakan acara pengamatan bersama, hotel tersebut menyediakan sarapan spesial gerhana.

Meski sempat terganggu cuaca yang kurang mendukung sehingga gerhana tak dapat diamati dengan utuh, warga China terlihat sangat antusias untuk mengamati berlangsungnya fenomena gerhana matahari total yang dikatakan sebagai gerhana terlama abad ke-21. Gerhana matahari mulai terlihat di China dari pukul 08.15 pagi waktu setempat dan berlangsung selam 6 menit 39 detik.

Stasiun lokal, China Central Television, menayangkan dari menit-menit berlangsungnya gerhana matahari tersebut yang dikatakan sebagai "The Grat Yangtze River Solar Eclipse".

Berdasarkan gambar yang ditunjukkan stasiun televisi CCTV, jutaan orang berkumpul di wilayah barat daya China untuk mendapatkan penampakan jelas dari gerhana matahari yang berlangsung.

Warga Shangahai memutuskan untuk menghadapi cuaca yang kurang mendukung tersebut untuk tetap bisa menikmati gerhana matahari yang menyebabkan suasana gelap di China pada pukul 09.36 waktu setempat.

"Gerhana sudah berlangsung selama sejam, tetapi dengan pertunjukan seperti ini, kau tidak akan mau ketinggalan mengikutinya. Ini pengalaman yang sungguh menakjubkan," ujar Allen Chen, pegawai kantor di Shanghai yang memutuskan turun ke jalan untuk mengamati gerhana. (kompas.com)

Gerhana matahari yang terjadi pada Rabu (22/7) terlihat sebagian di Kota Medan dan sekitarnya. Hal ini disebabkan posisi terhalangnya matahari oleh bulan tidak persis di kawasan Medan dan sekitarnya.

Di Tanah Air, gerhana matahari hanya terlihat di wilayah yang berada di atas garis khatulistiwa. "Semakin ke barat wilayah Indonesia akan semakin jelas terlihat. Posisi ideal pengamatan gerhana kali ini ada di wilayah Nepal, India, dan sebagian China. Di Medan dan sekitarnya posisi gerhana terlihat di kuadran ketiga jika kita bagi bayang gerhana itu dalam sebuah lingkaran. Posisinya terlihat di bagian kiri bawah bayang-bayang bulan yang menghalani sinar matahari," tutur Kepala Stasiun Geofisika Tuntungan, Deli Serdang, Rifwar Kamin, Rabu saat dihubungi dari Medan.

Tim Stasiun Geofisika Tuntungan dan sejumlah mahasiswa melakukan pengamatan gerhana bersama. Mereka mengamati gerhana dengan memakai bantuan theodolite (alat untuk melihat benda jarak jauh). Pada fase awal gerhana ini tidak terlihat sama sekali.

Namun, menjelang fase puncak, yaitu tertutupnya cahaya matahari oleh bulan, tim pengamat dan mahasiswa berhasil melihat mulai pukul 06.58 sampai pukul 07.51. Rifwar mengatakan, fenomena gerhana ini merupakan fenomena alam tahunan.

Gerhana matahari terlihat sempurna di tempat yang sama akan terjadi pada periode 100 tahunan. Masyarakat Kota Medan dan sekitarnya tidak banyak yang tahu bahwa hari ini terjadi gerhana. Aktivitas berjalan seperti biasa dan di sejumlah wilayah tertutup kabut asap yang belakangan terus menggelayut di langit. (kompas.com)