#OctoberWish

Everything is never as it seems.



Di saat mimpi pendaratan manusia di Bulan masih diusahakan kembali, ambisi untuk melakukan ekspedisi ke Mars juga tengah disiapkan. Simulasi perjalanan panjang ke sana baru-baru ini sukses dan berjalan mulus.

Sebanyak enam relawan asal Eropa keluar dengan kondisi baik dari ruang simulasi kapsul ruang angkasa di Moskwa, Rusia, setelah menghabiskan lebih dari tiga bulan dalam kapsul tersebut. Meski terlihat lelah, mereka tetap sehat dan tersenyum.

Keenam orang ini adalah bagian dari eksperimen untuk mempelajari kondisi astronot ketika berada dalam situasi yang sangat terisolasi dan terkekang dalam kapsul ruang angkasa selama perjalanan panjang ke Mars. Dari enam sukarelawan itu, empat orang berasal dari Rusia, satu orang dari Jerman, dan satu orang lagi dari Perancis.

Sergei Ryazansky, kapten dari enam orang itu, mengatakan, hal yang paling berat selain mengetahui bahwa mereka "sedang" melakukan perjalanan sejauh 276 juta kilometer adalah bahwa mereka terkunci dalam ruang seukuran gerbong kereta tanpa jendela. "Hal yang juga sulit adalah bahwa penerbangan ini bukan sungguhan," ujar Ryazansky yang mengenakan pakaian antariksa biru model NASA dengan tulisan MARS 500.

Para awak yang dipilih dari 6.000 pelamar itu dibayar masing-masing 20.987 dollar AS (sekitar Rp 220 juta) untuk dikunci dalam modul yang serupa dengan kapsul antariksa sejak 31 Maret 2009. Mereka nyaris tidak diberi akses kepada dunia luar.

Mereka tidak memiliki televisi atau internet, dan hubungan dengan dunia luar hanyalah komunikasi dengan pusat pengendali eksperimen, yang juga memonitor mereka melalui kamera TV. Komunikasi itu pun mengalami jeda sekitar 20 menit agar benar-benar mirip penerbangan ruang angkasa.

Masing-masing awak memiliki kabin pribadi dengan interior seperti yang ditemui dalam kapal selam. Namun, struktur ruangannya dibuat khusus untuk percobaan perjalanan ruang angkasa.

Agar benar-benar terisolasi, pintu modul dikunci dengan palang dan diikat benang serta distempel dengan lilin merah.

Saat keluar pada Selasa (14/7) setelah terisolasi selama 105 hari, relawan dari Jerman mengaku benar-benar kehilangan orientasi waktu. Padahal, 105 hari masih jauh dari waktu sesungguhnya untuk menempuh perjalanan pergi dan pulang dari Mars. Tahun depan, sekelompok relawan lainnya akan memasuki kapsul yang sama dan akan diisolasi di dalamnya selama 520 hari sesuai perkiraan perjalanan pergi dan pulang dari Bumi ke Mars. (kompas.com)

Toak, selama ini dikenal sebagai minuman khas dari Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Selain dikenal sebagai minuman yang bisa memabukkan peminumnya, kini toak bisa di manfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Hasil percobaan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tuban, meski belum mencapai hasil memuaskan, namun temuan itu cukup bermanfaat sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tuban, Muji Slamet Kamis (16/7) menyatakan saat ini, timnya sedang melakukan penelitian akhir tentang bahan bakar alternatif berbahan baku toak. Hasil fermentasi sari bunga pohon siwalan ini, ternyata mampu m enghasilkan bahan ethanol bermutu tinggi.

Agar menghasilkan cairan ethanol yang bermutu tinggi harus menggunakan toak basi atau toak yang difermentasi mengunakan ragi. Lalu, toak yang telah disimpan di tempat tertutup selama tujuh hari disuling melalui pemanasan. Pemanasan toak ini di lakukan h ingga mendidih, kata Muji.

Hasil penguapan toak basi ini disalurkan melalui pipa yang di rendam ke dalam air dingin. Pendinginan disebut sebagai proses penyulingan menghasilkan ethanol yang dipakai sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah.

Kandungan ethanol dalam olahan toak ini cukup tinggi hingga mencapai 90 persen. Ethanol ini kemudian diuji kualitasnya dengan cara membakarnya. Hasilnya cukup luar biasa, ethanol yang di bakar mampu menghasilkan api dengan menyala biru dengan jangka wakt u yang lama, katanya.

Penelitian dan percobaan bahan bakar dari toak ini dilakukan sebanyak lima kali dalam kurun waktu selama satu bulan terakhir. Namun hasilnya masih perlu diuji untuk mencapai biaya produksi yang efisien untuk diproduksi oleh masyarakat. Meski telah berhasi l masih terus dilakukan pengembangan atas penemuan itu. Rencananya akan dilakukan penelitian dan percobaan penggunaan tenaga surya atau tenaga angin sebagai bahan pemanas tungku dalam proses penyulingan toak menjadi ethanol, kata Muji.

Menurut dia rutinitas memanjat pohon siwalan merupakan aktifitas yang tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Tuban. Dari pohon siwalan ini tidak hanya bisa dimanfaatkan buahnya, sebagai bahan dawet atau dibuat legen siwalan. Sari bunga dari pohon ini ya ng biasa di sebut toak juga dapat dikonsumsi sebagai minuman layaknya minuman keras karena bisa memabukkan. Kini ditemukan toak bisa jadi bahan bakar cukup membanggakan, katanya. (kompas.com)